Jaya Negara Nyanggingin Serangkaian Karya Mepandas di Desa Adat Yangbatu

  • 19 Juni 2021
  • Oleh: Kominfo Denpasar
  • Dibaca: 65 Pengunjung

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah Nyanggingin serangkaian Karya Mepandes, Desa Adat Yangbatu pada Sabtu (19/6) di Wantilan Pura Desa, Desa Adat Yangbatu.

 

Sebagai Walikota, Jaya Negara memang tidak asing lagi dalam tugas  nyanggingin. Terlihat begitu terampil dan apik dalam menatah. Lantunan kidung dan suara gender mengiringi Walikota Jaya Negara melaksanakan tugas dalam menatah krama Desa Adat Yangbatu.

 

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, AA Ngurah Adhi Ardana, Ketua MDA Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana, Ketua Forum Bendesa Adat Kota Denpasar, I Wayan Butuantara, Camat Denpasar Timur, I Wayan Herman, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Raka Purwantara, Bendesa Adat Pagan I Wayan Subawa, serta Perbekel Desa Dangin Puri Kelod, I Made Sada.

 

Disela-sela pelaksanaan karya Wakil Walikota Denpasar, IGN. Jaya Negara mengatakan bahwa ritual potong gigi (mepandes) yang merupakan salah satu upacara Manusa Yadnya yang wajib dilakukan. Dalam agama Hindu Mepandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Upacara ini bertujuan untuk mengendalikan 6 sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia).

 

Lebih lanjut dikatakannya, selain merupakan sebuah kewajiban yang dilaksanakan dalam kehidupan, metatah merupakan upacara untuk menetralisir sifat buruk dalam diri manusia yang disebut dengan Sad Ripu yang meliputi Kama (sifat penuh nafsu indriya), Lobha (sifat loba dan serakah), Krodha (sifat kejam dan pemarah), Mada (sifat mabuk atau kemabukan), Matsarya (sifat dengki dan irihati), dan Moha (sifat kebingungan atau susah menentukan sesuatu).

 

"Mepandes atau metatah merupakan wujud bhakti kepada Sang Pencipta. Dengan dilaksanakannya karya metatah dan menek kelih masal ini diharapkan mampu meningkatkan sradha dan bhakti umat, serta para peserta atau yang bersangkutan mampu menjadikan diri lebih dewasa dan bijak baik dalam berpikir, berbuat dan berbicara, dan pelaksanaan kali ini agak berbeda lantaran penerapan prokes yang ketat dengan rapid test antigen," ujar Jaya Negara.

 

Bendesa Adat Yangbatu, I Nyoman Supatra saat ditemui mengatakan Karya Mepandes ini dilaksanakan lantaran masih banyak Krama Desa Adat Yangbatu yang belum mepandes. Karenanya, guna meringankan beban masyarakat, dilaksanakan mepandes di Desa Adat Yangbatu secara massal.

 

Adapun Mepandes ini diikuti oleh sedikitnya 144 peserta yang merupakan Krama Banjar Desa Adat Yangbatu. Rangkaian acara telah dimulai sejak Sukra Kliwon Wuku Madengkungan, Jumat (18/6) yang diawali dengan Rapid Test Antigen yang dilanjutkan dengan Pengekeban. Dilanjutkan dengan Medengen-dengen, Mabiokaonan, Mepandes dan Natab Mejaya-Jaya pada Saniscara Umanis Wuku Madangkungan, Sabtu (19/6).

 

"Tentu kami sebagai prajuru Desa Adat Yangbatu serta umat Hindu berkomitmen untuk membantu sesama serta meringankan beban umat dalam pelaksanaan yadnya, serta selalu berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat serta dapat meningkatkan sradha dan bhakti umat. Selain itu, karena pelaksanaannya di masa pandemi, Karya Mepandes ini tetao menerapkan disiplin protokol kesehatan, mulai dari menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan serta rapid test antigen," jelasnya. (Ags/HumasDps).


  • 19 Juni 2021
  • Oleh: Kominfo Denpasar
  • Dibaca: 65 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya