Pura Mekah

  • 13 Maret 2020
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 2868 Pengunjung

Tidak terkecuali dari sekian banyak pura di Bali, ada salah satu pura yang mempunyai keunikan dibandingkan dengan pura lainnya yang tidak menggunakan tata cara seperti yang umat Hindu lakukan saat tiba waktunya untuk memperingati hari suci atau piodalan sebagai hari lahirnya pura itu. Hal tersebut terjadi pada pura marga / keluarga. Sehubungan dengan hal itu ada pura marga atau masih disebut pura keluarga yang tatacaranya masih menggunakan tata cara Islam dalam melaksanakan upacara, serta hal yang cukup unik yang tidak pernah ada pada agama Hindu. Jenis upacaranya pun sangat terkait erat dengan tatacara menggunakan arah barat dalam ajaran agama Islam dan haram menggunakan daging babi. Hal itu dimungkinkan terjadi karena ada kaitan erat dengan para musafir Islam yang datang ke Bali ini, sehingga meninggalkan warisan tata cara yang patut dilaksanakan oleh warga tersebut. kaitannya dengan pura marga / keluarga merupakan pura yang pendiriannya terkait dengan hadirnya musafir / para pedagang Islam Arab ke wilayah Bali yang ditandai dengan adanya bangunan suci yang disebut Pura Mekah. Pura ini terletak di Banjar Binoh Kecamatan Denpasar Utara Kabupaten Badung.

Islam sudah masuk ke Pulau Bali pada Abad ke 15 M. Ini dibuktikan saat Dalem Ketut Ngelesir menjabat sebagai Raja Gelgel pertama (1380 – 1460) dan mengadakan kunjungan ke keraton Majapahit. Saat itu, Raja Hayam Wuruk mengadakan pertemuan dengan kerajaan seluruh nusantara. Setelah acara tersebut selesai, Dalem Ketut Ngelesir pulang ke negerinya Bali diantar oleh empat puluh orang dari Majapahit sebagai pengiring, yang konon diantara mereka terdapat Raden Modin dan Kiyai Abdul Jalil. Peristiwa ini dijadikan patokan masuknya Islam ke Pulau Bali yang berpusat di Kerajaan Gelgel. Sejak itu agama Islam mulai berkembang hingga saat ini.

Dengan masuknya Islam ke Indonesia hingga daerah Bali oleh para mubaligh dilanjutkan oleh para wali, maka sejak itu umat Islam sudah hidup di Bali dan mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan rohani hingga kini, dan menjadi rukun hidup berdampingan dengan umat lainnya dalam suasana ketenangan dan keharmonisan sehari – hari.

Berkaitan dengan masuknya pengaruh Islam, lewat kontak dagang maupun perantauan sehingga melahirkan pemujaan terhadap Dewa Pedagang Islam, roh leluhur yang beragama Islam yang disertai dengan pengembangan toleransi beragama yang sekaligus berarti menghindarkan Bali dari serangan kerajaan-kerajaan Islam. Toleransi bisa terjadi karena pedagang maupun perantau Islam yang masuk ke Bali bercorak Islam sinkretik. Hubungan antara orang Islam dan Hindu bisa pula diwamai oleh konflik yang berkahir pada pembunuhan. Berkenaan dengan itu bisa jadi Pelinggih Ratu Mekah terkait pula dengan usaha menghilangkan kutukan lewat pemujaan roh orang yang terbunuh. Pura sebagai tempat suci memiliki struktur, yakni halamannya terbagi menjadi dua, yakni jaba dan jeroan (Pura Dalem Mekah dan Pura Mekah)

Menurut Putu setia, disebutkan bahwa.
”Kata “Mekah” yang ada dalam Ratu Gede Dalem Mekah bukan kota suci Mekah di Arab Saudi sekarang ini, tetapi desa Mekah yang ada di Probolinggo atau Mojokerto atau mungkin nama yang mirip itu di pelosok Bali. Dengan begitu Gede Dalem Mekah hanyalah Mpu Tanrupa atau Ki Ngelawang yang datang dari Majapahit, sehingga tak apa-apalah sekarang dipuja dengan sesajen khas Hindu.

Pelinggih
Pelinggih Ratu Gede Bagus merupakan tempat bersthana dan berkumpulnya para dewa ketika ada rapat besar (paruman) juga Beliau sebagai pemimpinnya para dewa yang bersthana di Pura Mekah. Pelinggih Ratu Ayu tempat bersthananya Para Dewi yang menciptakan kesuburan lingkungan, termasuk kesejahteraan keluarga dan masyarakat Desa Ubung dan Pelinggih Gedong Ratu Gede Dalem Mekah tempat bersemayam atau istirahatnya para dewa atau leluhur yang beragama Islam.

Pelinggih Gedong Artha merupakan bangunan suci tempat bersthananya para dewa atau juga bersthananya Dewa yang menguasai harta kekayaan dan kemakmuran wilayah tersebut. Pelinggih Pengenter kiwa lan tengen merupakan tempat bersthananya roh halus atau satpam yang menjaga berada di lingkungan Pura Mekah. Pelingggih Ratu Ayu tempat bersthananya para dewi di lingkungan Pura Mekah tersebut. Jadi semua Dewa Dewi yang bersthana di bangunan suci tersebut memiliki tugas dan kewajiban seperti halnya manusia pada umumnya untuk berkegiatan dan juga mempertanggungjawabkan tugas itu kepada Hyang Widhi dan anugerah yang diterima penduduk wilayah tersebut diterima sesuai dengan hasil perbuatan / kegiatannya masing –masing / karma wasananya setiap warga lingkungan itu.

Bale Tajuk atau disebut juga tahajuk / tengah merupakan balai tempat menaruh sesajen yang akan diupacarai ketika hari piodalan tiba. Penduduk setempat mengatakan bahwa balai itu tempat idang / tempat menghidangkan sarana untuk para leluhur yang khususnya beragama Islam. Sedangkan Pelinggih Hyang Kawitan Arya Kepakisan merupakan bangunan suci tempat untuk berdoa kepada leluhur sebagai pendiri dan sekaligus pusat untuk bersembahyang khususnya warga / marga Arya Kepakisan di lingkungan itu hingga bisa menjaga keturunannya agar selamat dari segala sesuatu hal yang sifatnya negatif.

Keunikan Pura Mekah

Menurut Bawa Atmadja dkk Pura maupun pelinggih berorientasi ke gunung atau ke arah matahari terbit (arah sacral). Kecuali Pura Mekah Binoh, rangkaian ritualnya ada yang berkiblat ke barat (Mekah, Jawa).”

Setiap pura memiliki keunikan tersendiri yang membedakan dengan pura yang lainnya. Keunikan tersebut bahkan membedakan dari tradisi umat Hindu yang biasanya dilakukan di masing-masing pura di wilayah Bali. Hal yang terjadi pada umumnya adalah umat Hindu biasa menghaturkan sesajen yang salah satu isinya berupa daging babi. Selanjutnya dilakukan persembahyangan ke arah timur atau arah terbitnya matahari serta arah utara yang disimbolkan sebagai arahnya gunung. Karena utara dan timur, baik matahari maupun gunung adalah tempat yang sangat suci dalam pandangan Hindu. Bukan tempat atau arah lainnya tidak suci namun arah timur atau matahari merupakan arah tempat memuja dewa Matahari / Dewa Surya yang menyinari seluruh alam semesta beserta isinya. Begitu pula arah utara yang merupakan arahnya dewa Wisnu yang berlambangkan air. Sedangkan air pusatnya di gunung. Gunung juga tempat untuk dipujanya arwah para leluhur yang telah dibuatkan upacara ngeroras / memukur. Karena setelah upacara itu arwah leluhur semua bersthana di gunung, sehingga gunung dan matahari merupakan arah yang paling suci dalam kepercayaan agama Hindu. Disamping itu, umat Hindu tidak mengenal adanya sunatan. Sehubungan dengan hal itu berikut dijelaskan adanya ketentuan haram untuk mempersembahkan daging babi, tatacara sembahyang ke arah barat dan dilakukannya yang disebut sunatan, semua itu yang berada di wilayah lingkungan Pura Mekah yang membedakannya dengan pura yang lain dibahas sebagai berikut.

Haram Menghaturkan Daging Babi
Umumnya sebelum upacara dilaksanakan di suatu pura di Bali, biasanya dilaksanakan gotong royong secara bersama-sama warga pura itu dan menikmati hidangan daging babi yang sebelumnya dihaturkan pula di beberapa bangunan suci secara tradisi telah terlaksana dengan baik. Namun berbeda dengan situasi upacara di Pura Mekah yang haram untuk mempersembahkan daging babi.

Hal itu senada diungkapkan oleh Kanduk Supatra, “Ada pula yang unik di sini adalah setiap rerahinan atau piodalan di pura Mekah, maka semua haturan atau sesaji pantang menggunakan ulam bawi atau daging babi. Entah ini ada kaitannya dengan nama pura Mekah dengan daging babi.

”Ada kesamaan pada pura/pelinggih ini, yakni haram mempersembahkan daging babi. Pura/pelinggih memiliki aneka fungsi, bergantung pada jenisnya. Pura Dalem Mekah dan Pura Mekah adalah pura keluarga yang berfungsi sebagai tempat memuja roh leluhur yang beragama Islam. Hindu, dan dewa-dewa Hindu.”

Sembahyang Berkiblat ke Arah Barat
Sehubungan dengan keunikan lain, maka Kanduk Supatra dalam blogspotnya mengungkapkan
”Yang unik lagi bahwa setiap odalan yang jatuh pada Wraspati Kliwon Warigadean dilakukan upacara sebagaimana mestinya, termasuk pemuspaan. Namun setelah prosesi piodalan berakhir, maka dilanjutkan dengan ngaturang idangan yang terdiri dari berbagai jenis jaja cacalan dan raka-raka atau buah. Diiringi dengan puja astawa dari pemangku. Diiringi tarian dengan mengitari banten hidangan tersebut sambil membawa tumbak dan kadutan. Namun yang lain dari pada yang lain adalah prosesi nganteb atau mengayat tersebut menghadap ke Barat. Konon menurut I Made Kerti, bahwa pengayatan tersebut dilakukan ke Jawi atau Jawa sebagai asal dari para leluhur mereka. Ada yang konon mengatakan dari Jawa, dari Solo, dan bahkan ada yang mengatakan dari Madura. Yang jelas kiblat mereka menghaturkan hidangan tersebut adalah menghadap ke Barat. “

Seperti yang disebutkan di atas, menurut Jro Mangku Ketut Suartha, pensiunan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung mengatakan bahwa setelah upacara piodalan dilakukan menghadap ke timur, selanjutnya sesajen yang diletakkan di Pelinggih Tajuk / Bale Tajuk yang disebut idangan, yang paling banyak jumlahnya berupa jajan seperti jajan suci yang bentuknya seperti di bawah. Jenis jajan tersebut menghiasi sesajen yang telah siap dipersembahkan, lalu diturunkan dan diletakkan pada sebuah pelangkaan / seperti tempat tidur yang berukuran 2×2 meter. Di atasnya ditaruh tiker dengan ukuran yang sama dan sesajen pun digelar disusun sesuai dengan aturan yang telah ditentukan sebelumnya. Suguhan / hidangan dihaturkan menghadap arah barat dan sembahyang seluruh keluarga pun menghadap ke barat, yang diiringi tarian tombak dan keris yang mengelilingi sesajen tersebut dan tarian yang lain yang meramaikan suasana. Upacara berlangsung sekitar dua jam, yang diakhiri dengan ngelungsur / mengambil kembali sesajen yang telah dipersembahkan untuk dibagikan dan harus dinikmati walau sedikit saja oleh semua anggota keluarga, selanjutnya upacara dinyatakan selesai.


  • 13 Maret 2020
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 2868 Pengunjung

Datang & Kunjungi Terkait Lainnya