Teater tari "Pralaya" padukan Bali-India

  • 05 Desember 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 108 Pengunjung

Garapan teater tari berjudul "Pralaya", kolaborasi seniman yang tergabung dalam GEOKS Singapadu, Kabupaten Gianyar, dengan Lata Sampradaya (Sampradaya Dance Creations Toronto, Kanada) memadukan unsur kebudayaan Bali dan India yang mengangkat pentingnya umat manusia menjaga integritas diri.

"Garapan ini merupakan sebuah dialog dan interaksi dua budaya yang secara fisik dan geografis berjauhan namun secara kejiwaan memiliki banyak kedekatan," kata Prof Dr I Wayan Dibia, pimpinan GEOKS Singapadu, Gianyar, usai pementasan garapan "Pralaya" di Institut Seni Indonesia Denpasar, Sabtu (30/11) malam.

Secara garis besarnya, teater tari dan musik Pralaya yang berdurasi sekitar 75 menit itu mengangkat kisah dari epos Mahabharata dengan didukung 10 penari. Lima penari dari Bali, yakni I Wayan Dibia, I Gede Radiana Putra, Dewa Putu Selamat Raharja, Ida Ayu Made Dwita Sugiantini, dan Ni Ketut Santi Sukma Melati, sedangkan lima penari lainnya dari India yaitu Lata Pada, Atri Nundy, Nithya Garg, Parshwanah Upadhye, dan Adithya Veedu.

Prof Dibia yang juga akademisi ISI Denpasar itu mengemukakan garapan "Pralaya" digarap melalui dua tahap, yakni pertama, penggarapan bagian-bagian kelompok di Bali dan kemudia penggarapan bagian detail di Toronto, Kanada.

"Pralaya sebelumnya dipentaskan secara perdana di Fleck Dance Teater Toronto dan kemudian dipentaskan di delapan kota lainnya di Kanada, diantaranya Sudbury, Ottawa, Mntreal, Calgary, dan Vancouver," ucap Dibia.

Baca juga: FSBJ 2019, Disbud Bali siapkan hadiah puluhan juta untuk Lomba Teater Modern

Garapan sengaja mengangkat tajuk "Pralaya", menurut Dibia, untuk mengingatkan kita semua agar menjaga integritas diri, kejujuran dan kemuliaan.

"Jangan semua dipertaruhkan di meja judi, apakah judi yang sebenarnya, judi politik dan sebagainya. Kalau itu yang kita pertaruhkan, hancur kita, itulah yang dinamakan pralaya. Seperti halnya dalam epos Mahabharata, demi kemuliaan, rela mengorbankan saudaranya sendiri seperti yang terjadi diantara keluarga Pandawa dan Korawa," ujarnya.

Namun, lanjut dia, kalau manusia sudah bisa mengendalikan diri dan tidak ada buruk sangka dengan orang lain, kita akan menjadi manusia yang hidup bahagia.

"Persoalan integritas, tak hanya terjadi di Bali dan Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Integritas sudah mulai dipermainkan, dijadikan bahan mainan, bahkan diperjudikan," ucap budayawan yang melahirkan tari Manukrawa dan puluhan karya seni monumental lainnya.

Teater tari dan musik yang disaksikan pula oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan "Kun" Adnyana, Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, Konjen India di Bali, budayawan dan para mahasiswa itu mencakup lima bagian.

Bagian pertama dimulai dengan pemujaan terhadap Dewa Ganesha sebagai Dewa Pelindung untuk memohon keselamatan pertunjukan, kemudian dilanjutkan dengan penggambaran empat sifat yang mengendalikan hidup manusia, yaitu cinta kasih, loba, hormat, dan iri dengki.

Dua bagian berikutnya adalah pengenalan tokoh-tokoh dua keluarga yang berseteru, yaitu Korawa dan Pandawa, dalam Mahabharata, dan permainan dadu di Hastina yang berakhir dengan kekalahan Pandawa. Selanjutnya adalah protes Dewi Drupadi atas perlakuan Pandawa dan Korawa yang telah menistakan dirinya.

Baca juga: Teater Bumi Bali pentaskan "Detik-Detik Proklamasi" di FSBJ 2019

Dua bagian terakhir adalah Perang Bharatayudha yang berakhir dengan kehancuran seratus Korawa dan sejumlah ksatria Pandawa, serta kebangkitan semangat baru dalam suasana harmonis dan rasa kebersamaan.

"Bali dan India memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang, banyak hal yang masih bisa kita lakukan bersama dan kita bagi untuk menghasilkan suatu dialog budaya melalui pertunjukan seperti ini," ucapnya.


  • 05 Desember 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 108 Pengunjung

Datang & Kunjungi Terkait Lainnya