Nasi Tékor, Nostalgia Warung Bali Tempo Dulu

  • 03 Desember 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 138 Pengunjung

Namanya Nasi Tékor, sebuah warung makan khas Bali yang berlokasi di Jl. By Pass Ngurah Rai Tohpati No.113, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80237. Buka dari jam 9 pagi sampai 6 sore. Berbeda dari warung-warung kebanyakan, warung yang satu ini mampu membangkitkan nostalgia akan suasana Bali tempo dulu dengan kesederhanaanya.

 Tidak ada yang nampak mewah atau modern dari warung ini, tempatnya terlihat sangat sederhana dan natural. Bangunan paon (dapur) dan warungnya menjadi satu, berupa gubuk kecil dengan konstruksi kayu dan bambu, peralatan masaknya juga masih sangat tradisional. Tidak ada kompor yang ada hanya jalikan; tungku tradisional berbahan dasar tanah liat dengan kayu bakar di dalamnya.
Beberapa patung-patung paras Bali nampak menghiasi sudut-sudut warung, meja dan kursi sederhana berbahan dasar kayu daur ulang, tumpukan kayu bakar, bahkan kungkungan (sarang lebah dari batang pohon) bisa kita jumpai ditempat ini. Ditambah lagi dengan lampu-lampu kuno bergelantungan diantara tiang-tiang bambu, semakin kuat membangkitkan kenangan akan masa kecil dan suasana Bali puluhan tahun yang lalu.

Selain suasana dan tempatnya yang membangkitkan kenangan, hidangan yang ditawarkan disini juga disajikan dalam tampilan yang tidak kalah menarik. Sesuai dengan namanya “Nasi Tékor” maka sebagian besar hidangan utama yang kita nikmati di sini akan disajikan dalam wadah tékor. Bagi foodies yang berasal dari luar bali pasti sangat asing dengan istilah “tékor”, wajar saja karena istilah ini berasal dari bahasa Bali asli yang mungkin jarang didengar. Tékor sendiri merupakan sebutan dalam bahasa Bali untuk wadah makanan yang dibuat dari daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa (pincuk). Seiring dengan berkembangnya jaman, penggunaan tékor sebagai wadah makan mulai hilang dan tergantikan dengan piring yang bisa dipakai berulang-ulang namun menikmati hidangan dalam wadah tékor tentunya memiliki kesan tersendiri yang tidak bisa digantikan.

Ragam hidangan yang ditawarkan di warung ini memang tak begitu banyak bahkan tidak ada daftar menu yang tersedia di meja. Meskipun pilihan sajiannya sedikit namun kesemua hidangan yang ditawarkan disini adalah hidangan-hidangan khas Bali yang mungkin sudah jarang bisa kita temui, beberapa diantaranya seperti jukut gonda dan lawar biubatu.

 Kemarin saya mencoba Nasi Tekor dengan lauk yang lumayan lengkap ada lawar, sayur ares, telur base genep, kuah komoh, sambel mbe, dan beberapa jenis gorengan. Kerennya lagi semua hidangan ini tetap enak meskipun tanpa menggunakan MSG dan hanya mengandalkan kekuatan rasa dari base genep yang dipakai. Ibu pemilik warung juga sangat ramah bahkan dengan baik hati menjelaskan setiap hidangan yang disajikan. Soal harga, warung ini tergolong murah, untuk hidangan utama dibanderol dari harga Rp.10.000 sampai Rp. 20.000 saja per porsinya. 
Bagi foodies yang sedang tidak ingin makan berat, kalian bisa nongkrong di sini sambil menikmati cemilan kecil seperti  pisang goreng dan ubi karamel, ditemani segelas kopi atau teh hangat dalam cangkir-cangkir enamel nan klasik sembari menikmati kesederhanaan suasananya tentunya bisa  menjadi alternative untuk menikmati waktu santai kalian. Nah bagi foodies yang kangen akan suasana dan hidangan Bali tempo dulu, Warung Nasi Tékor bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati makan siang bareng temen atau keluarga.


  • 03 Desember 2019
  • Oleh: Denpasar Kota
  • Dibaca: 138 Pengunjung

Datang & Kunjungi Terkait Lainnya