Penjor Kreasi "Dewi Laksmi" Sebagai Media Literasi

  • 01 Januari 2020
  • Oleh: Berita Bali
  • Dibaca: 913 Pengunjung

Penjor dengan tema “Dewi Laksmi“ menjadi pusat perhatian pemedek di areal jaba teben Pura Puseh. Dalam sinopsis tema Penjor garapan tangan-tangan terampil Komunitas Batu Kong ini diceritakan peran Dewi Laksmi saat perputaran Gunung Mandara Giri dalam upaya mencari tirtha amerta (Tirta Kehidupan). 

Ceritera ini kemudian dituangkan ke dalam bentuk yang ditonjolkan adalah rangkaian buah berbentuk kura- kura (empas) yang dililit naga yang diletakkan di bawah sanggah penjor.

Untuk mempertegas makna sinopsis, dalam janur dibuat juga Dewi Laksmi dengan bahan pokok ulatan yang komplit terbuat dari anyaman ental. Selain itu untuk mempertegas dasar dari sanggah penjor juga dibuat kolam sebagai media samudra atau laut. 

Namun di balik semua kreasi yang ditampilkan harapan dan tujuan utama pembuatan penjor ini adalah agar semua kalangan bisa memahami makna dari cerita yang disajikan dengan cara mengamati media yang dibalut melalui kreasi penjor yadnya.

Hal inilah yang coba untuk ditonjolkan oleh I Gede Subrata salah seorang anggota Komunitas Batu Kong yang juga sebagai desainer Penjor tersebut. Menurut Subrata di era revolusi Industri 4.0 merupakan era distraction dimana masyarakat dunia mengalami globalisasi disajikan kecanggihan teknologi dan komunikasi.

Namun, di balik itu semua perlu diantisipasi juga dampak negatif globalisasi yang bisa menyebabkan terkikisnya adat, tradisi dan budaya sehingga perlu mendapat perhatian sejak dini. Kemampuan yang dituntut pada abad ini adalah kemampuan literasi dimana kita akan berkembang dengan membaca wawasan sehingga masyarakat selalu memiliki pikiran positif.

Berangkat dari sinilah, Komunitas Batu Kong kemudian membuat media literasi berupa penjor yang dilengkapi dengan sebuah sinopsis dari tema yang dibuat. Biasanya, cerita - cerita seperti ini kebanyakan hanya dipahami oleh orang - orang yang mendalami Sekar Agung (Wirama/mekekawin).

Namun melalui media inovasi Penjor, cerita - cerita semacam ini secara tidak langsung bisa diperkenalkan serta mudah dimengerti oleh semua kalangan baik anak- anak, muda maupun dewasa.

"Tujuan kami yang utama adalah melalui Penjor sebagai salah satu sarana dalam upaya melestarikan seni dan budaya serta mengenalkan cerita religius, tatwa dan cerita hindu," kata Subrata.

Sementara itu, Lomba penjor semacam ini memang sudah menjadi agenda rutin setiap tahunnya saat Aci Usabe Goreng. Ada dua kategori yang dilombakan yaitu kategori A untuk penjor dengan tinggi 15 meter atau lebih) dan kategori B tinggi 12 meter.

 Adapun keriteria penilaian penjor upakara terbagi atas kelengkapan, kerapian, keserasian dan keindahan. Kelengkapan yang dinilai penggunaan panca pala yaitu pala bungkah (umbi- umbian), pala gantung (buah- buahan), pala rambat (buah tanaman yang merambat), pala wija (biji - bijian).


  • 01 Januari 2020
  • Oleh: Berita Bali
  • Dibaca: 913 Pengunjung

Seni Budaya Terkait Lainnya