Menu

Gabus Sontoloyo Padukan Bondres Tradisional–Modern

  • Jumat, 27 November 2020
  • 1689x Dilihat

Beritabali.com, DENPASAR. Bondres tentu sudah lumrah terdengar di telinga, khususnya bagi masyarakat Bali. Bondres ialah seni pertunjukan lawak Bali yang kerap dilakoni oleh “kaum tua”.

Namun, pernyataan ini tentu dipatahkan oleh salah satu bondres asal Bali yang menyebut dirinya “Bondres SBG atau Gabus Sontoloyo”. Pasalnya, personil dari bebondresan ini terdiri dari kaum milenial yang terbilang cukup muda.

Adapun 3 personilnya yakni, Wahyu Arya Nanda (21) sebagai Soplar, Tommy Permana Sukma (23) sebagai Bungsil, dan yang terakhir Ida Bagus Sastra Lingga Kusuma (21) sebagai Gepeng.

Ketiga pemuda Bali ini berasal dari instansi yang sama yaitu Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Bebondresan yang terbentuk sekitar 2 tahun yang lalu ini telah merasakan pahit dan manisnya pentas di berbagai acara. Misalnya seperti acara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya serta acara seremonial lainnya.

Mengulik alasan mengapa bondres SBG ini bisa terbentuk, Ida Bagus  Sastra Lingga Kusuma atau yang akrab dipanggil Gepeng menuturkan. "Agar penonton mendapat nilai/makna secara pemahaman agama.

Kebetulan kami kuliah di kampus agama jadi ada branding gitu. Sekaligus bondres ini menjadi ajang branding kita bertiga, kebetulan fashion kami disini jadi kami punya cita- cita jika suatu saat kita bisa terkenal seperti pelawak- pelawak senior kita,” ungkapnya pada Minggu (22/11).

“Harapan saya untuk budaya dan tradisi yang ada di Bali kedepannya adalah yang utamanya untuk menjaga taksu yang ada di Bali, dan harapan saya kepada untuk seniman-seniman generasi muda yang ada di Bali agar bisa melestarikan budaya dan tradisi yang ada di bali,  sama seperti saya yang bergelut di bidang seni be bondresan, untuk menghibur masyarakat dan mari lah kita menghibur diri sebelum di kubur,” tutup Tommy alias Bungsil pada Minggu (22/11).

Besar harapan ketiga pemuda ini bagi seni bebondresan. Sebab kesenian yang terus mengikuti perkembangan jaman harus didukung penuh oleh kaum melineal yang akan menjadi generasi penerus nantinya.

 

Penulis : Ni Kadek Ita Yuliani
Editor   : I Komang Robby Patria